erniraster

the way to share my soul


Leave a comment

Berhasil itu…

Mereka ramai…

Entah topik apa sebelumnya yang sedang dibahas. Yang jelas, pekikan tawa dan adu pendapatnya menerobos semua sudut ruangan ini..

Sepertinya semua pengunjung ikut memaklumi. Delapan anak muda yang begitu ceria menikmati kebersamaan mereka. Sembari membuka halaman per halaman dari sebuah novel di tangan saya, perhatian saya semakin berkurang untuk menghayati isi ceritanya. Karena ternyata obrolan mereka semakin menyita perhatian. Saya putuskan memasang telinga untuk mendengar pembicaraan mereka kali ini..

“Terus menurut kamu, berhasil itu apa?”

“Berhasil itu, kayak kakak ini (sambil menunjuk pada seorang temannya yang lain). Masih muda, punya gelar tinggi, pekerjaan” 

Seorang lagi menimpal. “Ya sama..  kayak kakak (juga menunjuk ke orang yang sama) punya pekerjaan dan uang sendiri”

Pula teman di sampingnya ikut berpendapat. “Berhasil itu ketika kita pekerjaan, bisa megang uang sendiri dan gak perlu minta orangtua”.

Tak kalah dengan seorang yang lain. “Berhasil itu saat kita sudah tidak lagi meminta apa-apa dari orangtua”. 

Wuh..singkat dan sedikit menyesakkan.

Namun ada sebuah pendapat dari seorang diantara mereka yang lebih dari sekadar menarik. Dengan tersenyum dan menunjukkan karakter kuat dari wajahnya, terdengar , “berhasil itu adalah ketika hidup kita bermanfaaat bagi orang lain”. 

Hanya itu yang dia katakan. Beberapa tersenyumSaya pikir itu sebagai isyarat kagum dan menyetujui.

Ini puncaknya. Bahasan mereka yang menyita perhatian saya sedari tadi. Kumpulan anak-anak muda dengan obrolannya yang random tapi juga bermakna.

Perlahan sambil menutup bacaan tadi, saya masih menyimpan kekaguman yang dalam dan memaksa untuk tersenyum ke arah mereka yang tepat berada di depan meja saya..

Kalimat tadi seakan menari bebas di pikiran. Tanpa batas meminta untuk terus dimaknai.

“Anda berhasil, ketika hidup Anda telah berguna bagi orang lain”.

Saya tersenyum sendiri ikut menyetujui. Tapi juga memaksa untuk merenung, apa saya telah berhasil seperti yang dimaksud?

Saya pun harus segera pulang. Melewati delapan anak muda tadi, batin saya berbicara, “terima kasih kawan..bukan kebetulan bertemu kalian. Saya harus belajar menjadi pribadi yang “berhasil”, dengan hidup bermanfaat bagi orang lain”.

 


Leave a comment

Memberi bukan menerima

mengajari bukan menghakimi

memberi dorongan bukan merendahkan

memberi kepercayaan bukan melemahkan

memandang perbedaan bukan membeda-bedakan

~dalam keramaian penghibur jalanan…


Leave a comment

“cinto kacang abuih”

Ada yang menggelitik dalam perjalanan kali ini.

Setelah menghadiri acara pernikahan seorang teman seangkatan yang dengan sangat mengesankan dirayakan disebuah pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, perjalanan pulangnya kami lalui dengan candaan dan olokan yang kadang menggelikan. Bahasan anak-anak usia 24 tahun ke atas yang begitu random. Seorang teman pria yang telah menikah dengan candaannya, seorang teman cewek yang juga tak ketinggalan, yang lain pun ikut membantah dengan alasan dan pengalamannya masing-masing. Tidak ketinggalan sesuatu yang ilmiah pun dijadikan candaan.

Entah saat itu apa percakapan hangatnya dan seorang teman yang berasal dari Sumatra dengan spontan tertawa keras sambil mengatakan, “uhui, cinto kacang abuih”. Sebuah pernyataan yang tidak saja membuat kami terkecoh tapi juga penasaran. Kira-kira yang terpikirkan adalah “apa itu? apa maksudnya” 

Tawapun berhenti seketika. Rasa penasaran muncul seolah menuntut jawaban saat itu juga.

Dia menjelaskan.

“Ibarat kacang rebus, yang selesai dimasak dan uapnya hanya bertahan sebentar dan kemudian hilang. Kacangpun menjadi dingin. Itulah cinta kacang abuih atau cinta kacang rebus. Cinta yang panasnya sesaat”.

Kami pun spontan tertawa keras tapi juga menyetujui dan kagum dengan filosofi kacang rebus yang begitu fenomenal di suku Minang. Yang menarik bahwa, tak ada yang menyangka. Kacang rebus yang dijual dengan harga yang murah dan mudah didapatkan, memiliki filosofi tersendiri yang maknanya begitu dalam.

Ternyata semua dalam hidup merupakan kesatuan yang saling berhubungan. Tidak ada yang berdiri dengan porsinya masing-masing. Satu hal dapat menjadi pelajaran bagi hal lain,dan satu kejadian bisa dimaknai serupa dengan kejadian lainnya.


Leave a comment

“Perlukah dinamai?”

SAMAN menjadi sahabat perjalanan saya kali ini. Seorang mantan pastor baik hati dan pekerja keras. Ya, itulah Saman, sebuah novel lama karya pertama Ayu Utami yang pernah memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998.

Semakin terlarut dari halaman ke halaman, tersadar bahwa saya memang seorang diri tapi tidak sendirian. Iringan lagu dan dua bungkus Kitkat menjadi teman yang lain, saat harus berpikir keras mencerna setiap kalimat dalam Saman.

Terhenti sejenak, meletakkan buku di atas pangkuan sembari bertanya, mengapa kalimat ini selalu diulang. Saya yakin si penulis memiliki maksud tersendiri. Kalimat ini beberapa kali ditulis ketika seorang perempuan muda dalam cerita tengah asyik menikmati suasana baru di negeri orang dengan kekhasan yang tidak pernah dijumpai sebelumnya di negeri sendiri.

Sepenggal kalimat yang cukup menyita perhatian,

apakah keindahan perlu dinamai?

Hm, rupanya dapat dimengerti. Kalimat tersebut selalu diungkap ketika menghadapi semua ciptaan yang memiliki ciri dan keunikan masing-masing, bertumbuh dan bergerak dengan caranya sendiri dan memberi keindahan yang tak harus diberi nama.

Baiklah, sekali lagi ini urusan penulis dengan pengalaman dan ceritanya. Tinggalkan saja. Namun perlahan, entah kenapa ini menjadi urusan saya ketika kalimat pendek itu terus menari bebas di pikiran. Saya pun tak punya alasan rinci untuk menjelaskannya. Mungkin ini maksudnya, ‘tak perlu dinamai’ 🙂

Tanpa disadari semacam ada sinyal dari otak yang dikirim untuk menarik bibir selebar mungkin agar tersenyum dan kembali berpikir bahwa setiap keindahan tidak harus dinamai.

Saya pun tergerak melihat sekeliling. Entah siapa di kanan dan kiri, depan dan belakang. Namun yang pasti, ini juga keindahan. Keindahan yang saya sendiri tak tahu apa namanya. Sembari menatap ke luar jendela, di luar sana pun ada keindahan. Keindahan akan keramaian yang tak karuan. Entahlah, saya tak mampu menamainya.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa benar, tidak selamanya setiap keindahan perlu dinamai. Keindahan cukup dirasakan. Sebuah keindahan adalah keindahan itu sendiri. Tidak perlu repot menamainya. Tidak perlu gusar mencari makna yang tepat. Cukup berhenti sejenak dan nikmati keindahan itu. Apapun itu.

Nikmati keindahan itu..


Leave a comment >

Sambil tersenyum lebar dan mengangkat kedua bahunya anak muda berkulit eksotis itu membuka pembicaraan tepat di tengah halaman parkir Perpustakaan yang rindang.

“Saya tidak tahu harus memberi nama apa untuk hari ini”.

Temannya menjawab, “perlukah?”

“Mungkin kali ini perlu”

“Oke, tarik nafas dan ceritakan”.

“Dijaman seperti ini masih ada kebaikan. Saya pikir, hal kebaikan itu sudah semakin langka dari hari ke hari. Lewat kejadian ini, saya masih percaya, orang jahat itu ada, tapi juga orang baik jauh melebihi jumlahnya, karena selama masih ada kehidupan, kebaikan selalu ada”.

Temannya semakin bingung. Tapi tetap tenang menunggu apa yang akan didengar selanjutnya.

“Hari ini seseorang telah menunjukkan bahwa hal kebaikan adalah berhubungan dengan karakter. Seseorang yang telah menanam karakter baik dan positif dalam dirinya, dalam kesempatan apapun, akan tetap berbuat baik”.

“maksudnya?”

“seorang tukang batu menemukan kembali dompetnya yang hilang beberapa hari lalu. Isinya adalah surat-surat penting, uang 1300 rupiah di sisi dompet bagian depan dan 1.4 juta yang disimpan khusus karena dilipat rapih dan dimasukkan dalam (sampul) STNK. Siapapun pengguna dompet tahu maknanya. Uang dengan tempat khusus seperti itu, entah diperoleh dengan cara yang tidak mudah atau disimpan untuk keperluan penting atau akan diberikan kepada siapa. Entahlah, yang pasti ketika dia ikhlas melepas rejekinya yang entah diperoleh setelah bekerja sehari, seminggu atau sebulan bahkan berbulan-bulan, untuk orang lain, justru rejekinya yang tidak rela meninggalkan tuannya. Sesuatu yang diperoleh dengan kerja keras dan kejujuran, buahnya tak akan lari jauh”.

Seseorang yang menemukan dompet yang tergeletak rapih di jalan itu, dengan “caraNYa” menemukan si pemilik dompet yang seorang tukang batu dan mengembalikannya. Ini sederhana, tapi juga tidak terduga.

Temannya terdiam lama. Entahlah apa yang dipikirkan. Masih juga terdiam. Sambil kemudian berjalan mendekat, dan bersuara: “Selama ada Tuhan, akan tetap ada kebaikan. Hanya saja terkadang manusia sering menyangkal kehadiranNya”

Hm…mungkin judul yang tepat untuk hari ini, “Selama ada Tuhan, akan tetap ada kebaikan.”


Leave a comment

Selalu Ada Kejutan

 Life is just full of surprises!
Itulah sebuah postingan tweet seorang personil grup band SIMPLE PLAN asal Canada, yang secara sengaja dan tanpa alasan saya me-retweetnya.
Entahlah, yang pasti suatu hari saya akan menemukan alasan melakukannya.
And I found it 🙂
Hari ini, 21 Februari, saat saya dan mungkin sebagian dari isi dunia ini bersukacita atas berbagai peristiwa menyenangkan yang terjadi, beberapa yang lain justru merasakan sebaliknya. Saya tidak akan membicarakan peristiwa dan kejutan apa yang dialami orang lain, karena saya tidak mengetahuinya. Hari ini, saat saya bersyukur atas pertambahan usia sang ayah dan kembarannya, namun ada yang lain, tengah berduka atas kepergian sang ayah.
Saya mengerti sekarang, hidup memang selalu punya kejutan. Baik atau buruk, mau tidak mau, suka tidak suka, terima atau menolak, selalu akan ada kejutan.
That’s life…


Leave a comment

Tentang Selera

Aa’, indomienya goreng satu ya, telurnya stengah mateng, dikasih sawi, saus dalam bungkusan mienya gak usah dibubuhi ya. Mienya jangan kematengan. O ya, pake nasi putih. Tapi nasinya separuh aja. Inget ya A’ separuh aja. Uhm..minumnya, milo dobel ya, di gelas kecil aja, tanpa gula. Anget ya A’, eh panas aja. Panas banget ya… (kata temen, yang kira-kira airnya, life from kompor, haha).

Ibu, pesen loteknya satu ya. Gak pedes sama skali, gak usah dikasih kol dan tahu.

Pak, gado-gadonya satu ya, lontongnya dikit aja ya. Dikit….aja. Terus, gak usah di kasih tahu dan kol juga ya. O iya lupa, telurnya juga gak usah ya bu. Cabenya juga gak usah sama skali…

Mas, minta teh panasnya satu ya… gulanya dikit aja. Panas ya mas… Gelasnya yang kecil aja. Panas ya mas…

Pak rujaknya satu ya. Timunnya gak usah, kedondongnya juga, jambunya juga, mangganya gak, terasinya gak usah. gak pake cabe, rasa asemnya dikit aja. Jadi yang dipake? bengkoang ama pepaya aja. (humm)

Bu, nasi ramesnya satu ya, nasinya separuh aja, gak usah dikasih sambel. Sayurnya banyak ya bu,

tapi ininya gak usah, itunya dikit aja…

dan bla..bla,,,bla…

Hahaha, ribet kan? pernah mengalami atau menjumpai hal-hal di atas? Sesuatu yang diperhitungkan untuk masuk ke dalam tubuh, dan semua orang punya alsannya masing-masing. Tak jarang, alasannya unik dan kadang terdengar lucu.

Kenapa milonya harus dobel? Biar gak encer dan enak pas diminum, kalo encer bisa sakit perut.

Kenapa gak pake telur? Alergi! bikin jerawatan!

Kenapa telurnya stengah mateng? Bagus aja bentuknya  🙂 (hmmm..)

Kenapa gak suka makan sambel? Rujak gak dikasih cabe? dan rasa asemnya cuman dikit? Gak suka rasa pedes dan asam. (hah? aneh!)

Ini bukan masalah besar yang perlu diperdebatkan. Sebenarnya sederhana, tapi juga terlihat ribet. Tidak simpel. Terkadang buat orang-orang disamping terkesan tidak respek. Karena kata orang, you are what you eat..

JIka harus berpendapat, setiap orang bebas memilih apa yang harus dimakan, berhak memutuskan apa yang harus dikecap dan berhak pula atas apa yang sudah terbiasa diterima perutnya. Justru yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berpura-pura menjadi orang lain saat berhadapan dengan makanan, hanya karena ingin diterima orang sekitar.

Kalau bicara soal mencoba sesuatu yang baru dan di luar kebiasaan, itu berbeda kasusnya. Saya hanya membicarakan soal ‘rasa’, ‘kebiasaan’ dan ‘selera’. Namun yang terpenting adalah selera.

Itulah ‘selera’. Selera yang membuat seseorang terlihat ribet tapi juga unik, karena menyukai sesuatu yang jarang diminati banyak orang, dan tak ayal mereka sendiri tidak punya alasan detil untuk menjelaskannya.

Itulah selera! Kita atau siapapun boleh saja memprotesnya, tapi lebih dari itu, kita sendiri juga punya selera, tapi mungkin belum mengenali dan mengikuti apa maunya selera kita dengan baik. Sehingga kita lebih mudah melihat dan menilai selera orang lain.. 🙂

Mungkin kita sama-sama menyukai minum milo. Tapi saya lebih suka tidak menambah gula, dan anda lebh suka menambahinya dengan sedikit gula. Saya lebih suka meminumnya di gelas kecil, anda lebih suka di gelas yang lebar dengan lebih banyak air. Saya lebih suka dengan air yang panas, dan anda lebih suka dengan yang hangat atau diberi es.

Atau kita sesama penikmat kopi. tapi saya lebih senang dengan kopi yang kental, hitam pekat tanpa banyak gula. Dan anda menyukai yang ditambahkan susu dan dicampuri berbagai rasa atau yang beri es. Atau kita memiliki rasa yang berbeda dari setiap jenis kopi. Tak ada masalah, ketika sesuatu tidak dipermasalahkan, karena sekali lagi, itulah selera!

Orang lain berhak menilai apapun selera seseorang, tapi yang terpenting adalah diri sendiri lebih berhak mengikuti tuntutan seleranya ketimbang berpura-pura mengikuti selera orang lain dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi dirinya sendiri. Kamu punya selera, dan ikuti seleramu, sehingga kamu sendiri paham bagaimana dirimu yang sebenarnya.. : )